Lampung Selatan – Badan SAR Nasional (Basarnas) Pos SAR Bakauheni mengevakuasi empat anak buah kapal (ABK) nelayan yang terdampar di perairan Pulau Sebuku, Kabupaten Lampung Selatan, setelah kapal mereka mengalami mati mesin sejak Kamis (13/11). Evakuasi dilakukan pada Minggu pagi setelah tim SAR menerima laporan lanjutan terkait kondisi korban yang mulai mengkhawatirkan.
Kronologi Kapal Nelayan Alami Mati Mesin
Kepala Pos SAR Bakauheni, Rezie Kuswara, menjelaskan bahwa empat nelayan tersebut berangkat dari Pantai Mutun sekitar pukul 18.00 WIB untuk mencari ikan. Namun, cuaca buruk langsung menghadang perjalanan mereka. Gelombang tinggi dan angin kencang membuat kapal goyah, sementara mesin kapal tiba-tiba mati dan gagal dinyalakan kembali meski sudah diupayakan berulang kali.
“Iya benar, hari ini kami melakukan evakuasi terhadap empat nelayan yang terdampar di perairan Pulau Sebuku akibat perahu yang ditumpangi mengalami mati mesin sejak Kamis kemarin,” ujar Rezie.
Sebelumnya, masyarakat sempat memberikan laporan bahwa ada kapal nelayan yang terlihat terombang-ambing di tengah laut tanpa arah. Informasi tersebut langsung diteruskan ke tim SAR.
Baca Juga : Gubernur Lampung pastikan disabilitas punya hak
Laporan Darurat dan Koordinasi Penyelamatan
Pada Minggu sekitar pukul 06.35 WIB, salah satu ABK akhirnya berhasil menghubungi temannya yang bekerja di BPBD Pesawaran. Ia melaporkan bahwa mereka masih berada di kapal dan membutuhkan pertolongan segera karena cuaca semakin memburuk.
BPBD Pesawaran lalu meneruskan laporan tersebut kepada Kantor SAR Lampung. Informasi itu menjadi titik awal bagi tim SAR untuk menentukan lokasi pencarian secara lebih akurat. Setelah menerima laporan lengkap, tim mempersiapkan peralatan dan berangkat menuju lokasi menggunakan KN SAR Basudewa.
Cuaca Buruk Hambat Operasi Evakuasi
Perjalanan menuju titik kejadian tidak berjalan mulus. Tim SAR menghadapi gelombang setinggi 1,5 hingga 2 meter, disertai angin kencang yang membuat laju kapal SAR melambat. Meski begitu, tim tetap melanjutkan pencarian dengan prosedur keselamatan ketat.
Beberapa jam kemudian, tim berhasil menemukan kapal nelayan tersebut dalam kondisi miring dan hampir hanyut terbawa arus. Empat nelayan ditemukan dalam kondisi lelah, mengalami dehidrasi ringan, dan menunjukkan tanda-tanda shock setelah lebih dari dua hari terjebak di tengah laut.
Korban Selamat dan Mendapat Pemeriksaan Medis
Keempat nelayan segera dievakuasi ke kapal KN SAR Basudewa. Sesampainya di darat, mereka langsung mendapat pemeriksaan medis awal oleh petugas kesehatan setempat. Meski mengalami kelelahan, seluruh korban dinyatakan selamat dan tidak mengalami luka serius.
Baca Juga : Festival Lampung Selatan jadi ajang tingkatkan produk UMKM
Rezie menegaskan bahwa kondisi cuaca ekstrem di perairan Selat Sunda menjadi tantangan terbesar dalam operasi penyelamatan. Ia juga mengapresiasi koordinasi cepat antara masyarakat, BPBD Pesawaran, dan Kantor SAR Lampung.
Imbauan Basarnas untuk Nelayan
Basarnas mengimbau seluruh nelayan di wilayah Lampung dan sekitarnya untuk lebih berhati-hati sebelum melaut, terutama pada periode cuaca buruk. Pemeriksaan mesin, kesiapan pelampung, perbekalan, serta pemantauan prakiraan cuaca menjadi faktor penting untuk menjaga keselamatan.
“Kami mengingatkan seluruh nelayan untuk memastikan peralatan kapal dalam kondisi baik dan selalu memperhatikan kondisi cuaca sebelum berangkat. Saat ini gelombang di Selat Sunda cenderung meningkat,” kata Rezie.
Basarnas memastikan tetap siaga dan siap merespons cepat setiap laporan kecelakaan laut, terutama pada musim cuaca ekstrem yang berpotensi meningkatkan risiko pelayaran.






